RESUME
Jurnal
utama: “Perilaku Petugas Kesehatan dalam Perawatan Pasien Gangguan Jiwa
skizofrenia di Rumah sakit khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2013”
Jurnal
Pendukung:
1. PENGARUH
PENDIDIKAN KESEHATAN KELUARGA TERHADAP KEMAMPUAN
KELUARGA MERAWAT KLIEN HDR DI KOTA TASIKMALAYA
2. KEEFEKTIFAN
PENGGUNAAN RESTRAIN TERHADAP PENURUNAN PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN
SKIZOFRENIA
3.KORELASI
PERAN SERTA KELUARGA TERHADAP TINGKAT KEKAMBUHAN KLIEN SKIZOFRENIA
4. FAKTOR-FAKTOR
YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RSJD SURAKARTA
Schizofrenia
merupakan suatu syndrome klinis atau proses penyakit yang mempengaruhi persepsi, emosi, perilaku, dan fungsi sosial.
Permasalahan utama yang sering terjadi pada pasien Schizofrenia adalah perilaku
kekerasan. Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang melakukan tindakan
yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun
lingkungan. Dalam manajemen perilaku kekerasan terdapat 3 strategi yaitu : strategi
pencegahan, strategi antisipasi, dan strategi pengekangan. Sedangkan pengikatan
(restrain) merupakan bagian dari strategi pengekangan.
Stuart
& Laraia (2005), mengatakan perilaku
yang sering muncul pada klien skizofrenia antara lain: motivasi kurang (81%),
isolasi sosial (72%), perilaku makan dan tidur yang buruk (72%), sukar
menyelesaikan tugas (72%), sukar mengatur keuangan (72%), penampilan yang tidak
rapi/bersih (64%), lupa melakukan sesuatu (64%), kurang perhatian pada orang
lain (56%), sering bertengkar (47%), bicara pada diri sendiri (41%), dan tidak
teratur makan obat (40%). Penjelasan ini dapat diartikan bahwa pada klien
dengan skizofrenia mengalami penurunan motivasi yang tinggi dan sukar
menyelesaikan tugas. Hal ini disebabkan karena pasien merasa tidak mempunyai
kemampuan lagi, merasa lebih rendah dari orang lain sehingga berdampak pada
isolasi sosial. Perilaku yang muncul pada harga diri rendah kronik di antaranya
merusak diri dan orang lain, gangguan berhubungan dan menarik diri dari
realitas, sehingga apabila tidak ditangani dapat menyebabkan depresi bahkan
lebih jauh dapat melakukan tindakan bunuh diri.
Keluarga
merupakan unit paling dekat dengan klien, dan merupakan “perawat utama” bagi
klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan keperawatan yang diperlukan
klien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit dengan sia-sia jika tidak
diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh).
Peran serta keluarga sejak awal asuhan di tumah sakit akan meningkatkan kemampuan
keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.
Ada kecenderungan semakin rendah pendidikan seseorang maka akan tidak patuh dalam meminum obat. Tingkat pendidikan berhubungan dengan kemampuan menerima informasi kesehatan
dari media massa dan petugas kesehatan. Banyak kasus kesakitan dan kematian
masyarakat diakibatkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk. Suatu laporan
dari negara bagian Kerala di India Utara
menyatakan bahwa status kesehatan disana sangat baik, jauh diatas rata-rata
status kesehatan nasional. Setelah ditelusuri ternyata tingkat pendidikan kaum
wanitanya sangat tinggi diatas kaum pria
(Widoyono, 2008). Jenjang pendidikan memegang peranan penting dalam kesehatan
masyarakat (Sander, 2005). Jadi pendidikan berpengaruh pada kepatuhan minum
obat adalah benar adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar