Senin, 09 November 2015

Skizofrenia di Masa Kini



RESUME
Jurnal utama: “Perilaku Petugas Kesehatan dalam Perawatan Pasien Gangguan Jiwa skizofrenia di Rumah sakit khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2013”
Jurnal Pendukung:
1.  PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN KELUARGA  TERHADAP KEMAMPUAN KELUARGA MERAWAT KLIEN HDR DI KOTA TASIKMALAYA
2. KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN RESTRAIN TERHADAP PENURUNAN PERILAKU KEKERASAN PADA PASIEN SKIZOFRENIA
3.KORELASI PERAN SERTA KELUARGA TERHADAP TINGKAT KEKAMBUHAN KLIEN SKIZOFRENIA
4.  FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETIDAKPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA  DI RSJD SURAKARTA

Schizofrenia merupakan suatu syndrome klinis atau proses penyakit yang mempengaruhi  persepsi, emosi, perilaku, dan fungsi sosial. Permasalahan utama yang sering terjadi pada pasien Schizofrenia adalah perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik kepada diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Dalam manajemen perilaku kekerasan terdapat 3 strategi yaitu : strategi pencegahan, strategi antisipasi, dan strategi pengekangan. Sedangkan pengikatan (restrain) merupakan bagian dari strategi pengekangan.
Stuart & Laraia  (2005), mengatakan perilaku yang sering muncul pada klien skizofrenia antara lain: motivasi kurang (81%), isolasi sosial (72%), perilaku makan dan tidur yang buruk (72%), sukar menyelesaikan tugas (72%), sukar mengatur keuangan (72%), penampilan yang tidak rapi/bersih (64%), lupa melakukan sesuatu (64%), kurang perhatian pada orang lain (56%), sering bertengkar (47%), bicara pada diri sendiri (41%), dan tidak teratur makan obat (40%). Penjelasan ini dapat diartikan bahwa pada klien dengan skizofrenia mengalami penurunan motivasi yang tinggi dan sukar menyelesaikan tugas. Hal ini disebabkan karena pasien merasa tidak mempunyai kemampuan lagi, merasa lebih rendah dari orang lain sehingga berdampak pada isolasi sosial. Perilaku yang muncul pada harga diri rendah kronik di antaranya merusak diri dan orang lain, gangguan berhubungan dan menarik diri dari realitas, sehingga apabila tidak ditangani dapat menyebabkan depresi bahkan lebih jauh dapat melakukan tindakan bunuh diri.
Keluarga merupakan unit paling dekat dengan klien, dan merupakan “perawat utama” bagi klien. Keluarga berperan dalam menentukan cara atau asuhan keperawatan yang diperlukan klien di rumah. Keberhasilan perawat di rumah sakit dengan sia-sia jika tidak diteruskan di rumah yang kemudian mengakibatkan klien harus dirawat kembali (kambuh). Peran serta keluarga sejak awal asuhan di tumah sakit akan meningkatkan kemampuan keluarga merawat klien di rumah sehingga kemungkinan kambuh dapat dicegah.
 Ada kecenderungan semakin  rendah pendidikan seseorang maka  akan tidak patuh dalam meminum obat.  Tingkat pendidikan berhubungan  dengan kemampuan menerima informasi kesehatan dari media massa dan petugas kesehatan. Banyak kasus kesakitan dan kematian masyarakat diakibatkan rendahnya tingkat pendidikan penduduk. Suatu laporan dari negara bagian Kerala  di India Utara menyatakan bahwa status kesehatan disana sangat baik, jauh diatas rata-rata status kesehatan nasional. Setelah ditelusuri ternyata tingkat pendidikan kaum wanitanya sangat  tinggi diatas kaum pria (Widoyono, 2008). Jenjang pendidikan memegang peranan penting dalam kesehatan masyarakat (Sander, 2005). Jadi pendidikan berpengaruh pada kepatuhan minum obat adalah benar adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar